Skip to main content
Foto: Robertus Risky/Project Arek
Reportase
1800 Jam Berdiri, Adili Penjahat HAM!
*Aksi Kamisan ke-900 Surabaya
Sering kali pemerintah bicara ‘sampaikan aspirasimu dengan sopan dan tertib sesuai budaya ketimuran’. Aksi Kamisan, kurang sopan dan tertib apa? Nyatanya, hingga 900 kali aksi ini digelar, tak satu pun kasus pelanggaran HAM yang diselesaikan negara!

SEORANG pria berkaus putih bersimbah darah. Pria kurus itu dipukuli, dihajar habis-habisan oleh sosok tinggi besar nan kekar. Ia si bengis itu, memakai topi, celana jean, jaket dan sepatu kulit yang semuanya serba hitam. Ia terkapar. Merah darah melumuri sekujur tubuh pemuda malang.

Dalam keadaan lunglai dan meringkuk tubuh pemuda itu diseret, dimasukkan ke sebuah kardus. Kemudian, tangannya rapat diikat. “Kau di sini sampai mampus!” bentak sosok yang berpakaian serba hitam itu.

 

Pria di dalam kardus yang sudah tak berdaya tertawa keras.

“Diam!” bentaknya lagi.

Seorang perempuan bergaun merah kemudian datang. Menghadap pria bengis lagi arogan itu. “Anakku? Di mana?” tanya sang perempuan.

Kedatangan perempuan itu, tak membuatnya senang. Ia semakin marah. Mendidih darahnya.

Tak butuh waktu lama perempuan itu lalu menghampiri anaknya yang tengah meringkuk di dalam kardus. Ia kemudian memeluknya. “Anakku, anakku,” ujarnya sembari terisak.

Pelukan sang ibu, menyudahi siksaan tak terperih sosok laki-laki bengis itu. Selamatlah nyawa pemuda, meski harus babak belur dihajarnya.

Pertunjukan teater Kotak Merah menjadi visualisasi tabiat aparat keamanan yang acapkali menggunakan kekerasan. Bukan hanya luka, korban kehilangan nyawa dari pelor yang diletuskan pistol aparat. (Robertus Risky/Project Arek)

Meriah tepuk tangan ratusan orang lantas menjadi akhir dari pertunjukan dramatis yang diperagakan seniman dari Teater Penggalih dalam rangkaian Aksi Kamisan Surabaya di halaman Taman Apsari, sebelah Patung Gubernur Suryo, Surabaya pada Kamis sore (5/3/2026).

Teatrikal ini judulnya Kotak Merah. Itu bisa dianggap simbolisasi dari rangkaian kasus kekerasan terhadap masyarakat sipil, yang kita sebut tahanan politik atau tapol,” tutur Darius Tri, penulis naskah teater.

Ia mengungkapkan, pertunjukan teater Kotak Merah bertujuan untuk mengingatkan masyarakat luas, bahwa kekerasan telah menjadi tabiat aparat keamanan di Indonesia.

BACA JUGA : Lawan Parade Kekerasan Negara

Sosok ibu dalam adegan penutup juga menjadi sejenis aksi merawat ingatan; tentang Ibu Sumarsih yang masih menuntut keadilan atas kematian anaknya, Bernardus Realino Norma Irmawan alias Wawan yang ditembak mati aparat pada 13 November 1998.

Sumarsih adalah sosok yang mengawali Aksi Kamisan di depan Istana Negara di Jakarta. Perempuan bersahaja itu membawa payung hitam, teguh menagih janji negara. Aksinya kini menjadi medium perlawanan dan meresonansi setiap suara manusia Indonesia yang menjadi korban kekerasan negara.

 

Berbagai poster dibawa massa aksi. Semuanya berisi protes atas berbagai pelanggaran HAM yang terus terjadi, termasuk yang tak pernah dituntaskan negara. (Robertus Risky/Project Arek)

Juga tentang ibu-ibu yang lain, yang anaknya dikriminalisasi dan hingga kini masih masih berjuang di ruang-ruang pengadilan demi keadilan buah hati mereka. Jadi kekerasan itu diciptakan secara struktural. Juga berdampak secara struktural,” pungkas Darius Tri.

Aksi Kamisan yang ke-900 sore itu berlangsung ramai. Mulai dengan mimbar bebas, lapak baca buku, pertunjukan teater hingga paduan suara, turut memeriahkan jalannya aksi. Tak lupa teriakan-teriakan kemarahan pun digaungkan dalam bentuk orasi.

“No Justice No Peace. Fuck the Police. Polisi Jancok!” demikian teriak para peserta aksi.

Kemarahan ini dipantik kekerasan aparat negara, khususnya polisi yang terus berulang. Terbaru, Bertrand Eko Prasetyo Radiman, remaja 18 tahun tewas ditembak perwira polisi pada Minggu (01/03), di Panakkukang, Makassar, Sulawesi Selatan.

Lalu, seorang remaja bernama Arianto Tawakal tewas setelah kepalanya dihantam helm baja milik anggota Brimob di Tual, Maluku pada Februari. Sebelumnya, Agustus 2025 lalu, anggota Brimob melindas tubuh pengemudi ojek online, Affan Kurniawan menggunakan mobil rantis hingga tewas. Kematian Affan, memicu demonstrasi besar di berbagai daerah. 

BACA JUGA : Aksi Kami Untukmu, Tawakal!

Lalu penembakan Gamma Rizkynata Oktafandy (17), pelajar SMK di Semarang, Jawa Tengah oleh Aiptu Robig Zaenudin pada Minggu (24/11/2024) dini hari. Gemma bahkan dituduh membawa senjata tajam untuk tawuran. Tuduhan itu rupanya hanyalah rekayasa polisi. 

Mereka yang dibunuh, adalah masyarakat sipil, bahkan anak-anak yang sama sekali tak berbahaya.

Mimbar orasi digelar untuk mereka yang lantang menyuarakan berbagai pelanggaran HAM yang tak pernah dituntaskan Negara. Orasi ini sekaligus bukti represi tak membuat mereka takut. (Robertus Risky/Project Arek)

***

Selebaran berisi daftar urutan lagu berikut liriknya dibagikan. Paduan suara dari Tim Hindia Surabaya bersiap mengambil posisi. Deretan lagu gubahan Baskara Putra dinyanyikan kemudian. Ada dua lagu yang diciptakan Baskara pada 2025, yang didedikasikan untuk Aksi Kamisan mereka nyanyikan.

Suatu hari aku melihat. Payung hitam berbaris rapat
Di televisi, suatu pagi. Sebelum gegas berangkat sekolah

Suatu hari aku tercekat. Pertama kali aku mengerti
Alasan hadir puluhan orang. Baju gelap, nol titik terang

Suatu hari aku bertanya. Apa belum selesai juga?
Di layar ponsel, di kantin kampus. Mendekati hari ku lulus

“Di tahun 2025 kemarin baru saja ngeluarin album baru yang di mana isi albumnya ada dua lagu yang dia dedikasikan untuk Aksi Kamisan, judulnya Kamis dan Anak Itu Belum Pulang,” ujar Adelia Naomi, anggota Tim Hindia Surabaya.

Adelia Naomi memimpin paduan suara Tim Hindia Surabaya menyanyikan lagu milik Baskara Putra yang didedikasikan untuk Aksi Kamisan . (Robertus Risky/Project Arek)

Sebuah lilin dibagikan di penghujung acara. Tiap peserta menyalakannya satu per satu. Lilin itu menjadi menghantar bara ketika lagu Darah Juang diputar. Nama-nama korban kriminalisasi dibacakan. Doa dipanjatkan kemudian.

Adel, sapaan akrab Adelia Naomi menjelaskan, aksi menyalakan lilin bersama merupakan bentuk bela sungkawa terhadap korban-korban pelanggaran HAM yang telah meninggal maupun yang masih hilang serta mereka yang terus berjuang.

 

Lilin dinyalakan sebagai simbol perlawanan yang tak pernah padam. (Robertus Risky/Project Arek)

“Lalu juga sebagai simbol kita tetap menjaga api, walau kecil kita upayakan jangan pernah padam seperti Aksi Kamisan yang sudah berdiri selama 900 kali. Suatu simbolik kalau api itu kecil tapi tetap menyala,” tutup Adel.

 

Mereka menyanyikan lagu Darah Juang sebagai perekat arah juang mereka melawan segala bentuk penindasan. (Robertus Risky/Project Arek)

Sudah 900 kali Kamis mereka berdiri, rata-rata selama 2 jam lamanya. Itu artinya, lebih dari 1800 jam mereka berdiri menyuarakan agar Negara segera mengadili penjahat HAM. Namun kekuasaan berganti, yang tetap adalah praktik impunitas, praktik pembiaran pelaku kejahatan atas HAM.  

Massa Aksi Kamisan ke-900 Surabaya menegaskan diri, bahwa mereka tidak takut menyuarakan kebenaran di tengah represi negara. Setiap Kamis di depan Gedung Grahadi mereka pasti kembali. (Robertus Risky/Project Arek)

BACA JUGA : 

Dominasi Militer Renggut Ruang Sipil

Beban Ganda Mahasiswa Orang Asli Papua